9 / 100 Skor SEO

Sintang, Sabtu, 20 Juni 2026 – STAI Ma’arif Sintang mengadakan kegiatan Kuliah Umum yang bertempat di Aula STAI Ma’arif Sintang. Kegiatan ini mengusung tema “Tantangan dan Peluang Pendidikan Islam di Era Teknologi dan Digitalisasi dalam Pembentukan Karakter Generasi Z” dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd.

Kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika STAI Ma’arif Sintang dengan penuh antusias. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua STAI Ma’arif Sintang, Dr. Masruri, M.Pd.I.

Dalam sambutannya, Dr. Masruri, M.Pd.I. menyampaikan bahwa perkembangan teknologi dan digitalisasi merupakan suatu keniscayaan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri dengan meningkatkan kompetensi akademik sekaligus menjaga nilai-nilai moral dan karakter Islami.

“Kami berharap melalui kegiatan kuliah umum ini, mahasiswa dapat memperoleh wawasan yang luas mengenai tantangan dan peluang pendidikan Islam di era digital. Jadilah generasi yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan tetap menjunjung tinggi akhlak mulia,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua STAI Ma’arif Sintang juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada narasumber yang telah berkenan hadir dan berbagi ilmu serta pengalaman kepada mahasiswa STAI Ma’arif Sintang.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Akademik, Dr. Nanang Zakaria, M.Pd.I., menjelaskan bahwa kegiatan kuliah umum ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan pendidikan Islam di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami berbagai tantangan sekaligus peluang yang ada, sehingga mereka mampu beradaptasi, berinovasi, dan tetap memiliki karakter yang kuat sebagai generasi penerus bangsa,” jelasnya.

Sebagai pemateri, Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd. memaparkan bahwa era teknologi dan digitalisasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Menurutnya, pendidikan Islam harus mampu bertransformasi dengan memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran yang efektif, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi utama.

Beliau juga menekankan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, pembentukan karakter menjadi hal yang sangat penting agar generasi muda tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, sikap kritis, kreatif, serta bertanggung jawab.

“Teknologi bukanlah ancaman bagi pendidikan Islam, melainkan peluang besar untuk memperluas dakwah dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Yang terpenting adalah bagaimana kita membangun karakter generasi muda agar mampu menggunakan teknologi secara positif dan produktif,” ungkapnya.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana cara Generasi Z menghadapi Generasi Alfa yang tumbuh dan berkembang di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat. Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd. menjelaskan bahwa Generasi Z memiliki peran penting sebagai kakak, pendidik, maupun teladan bagi Generasi Alfa. Oleh karena itu, Generasi Z perlu membekali diri dengan karakter yang kuat, kemampuan literasi digital, serta sikap bijak dalam menggunakan teknologi.

Selain itu, Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd. juga menjelaskan peran penting orang tua dalam menghadapi Generasi Alfa saat ini. Menurut beliau, Generasi Alfa merupakan generasi yang sangat dekat dengan teknologi, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta cenderung berpikir kritis dan logis. Oleh karena itu, pola pengasuhan yang mengedepankan perintah semata sudah tidak lagi efektif.

Beliau menegaskan bahwa orang tua perlu menghadapi anak dengan pendekatan yang rasional dan komunikatif, yaitu “logika dihadapi dengan logika.” Ketika anak bertanya atau berpendapat, orang tua hendaknya memberikan penjelasan yang masuk akal sesuai usia mereka, bukan hanya memberikan larangan tanpa alasan yang jelas.

Namun demikian, pendekatan logika tersebut harus disertai dengan sentuhan perasaan yang positif. Orang tua perlu membangun kedekatan emosional melalui kasih sayang, apresiasi, dan komunikasi yang hangat agar anak merasa dihargai dan didengarkan. Dengan cara ini, anak tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan karakter yang baik.

“Generasi Alfa tidak cukup diarahkan hanya dengan aturan, tetapi perlu dipahami dengan hati. Ketika logika mereka dijawab dengan logika yang baik dan dibalut dengan kasih sayang, maka akan tumbuh rasa percaya, hormat, dan tanggung jawab dalam diri mereka. Inilah yang menjadi dasar pembentukan karakter generasi masa depan,” jelas beliau.

Beliau juga mengingatkan bahwa orang tua harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta menanamkan nilai-nilai agama sejak dini. Dengan demikian, Generasi Alfa dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral serta keislaman.

Melalui kegiatan ini, STAI Ma’arif Sintang kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman serta berorientasi pada pembentukan generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *