Monthly Archives: April 2013

Implementasi Pendidikan Tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Nganjuk (Thesis)

oleh:
Muhammad Muhajir, M.Pd.I

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Istilah tasawuf belum dikenal pada zaman Rasul SAW maupun sahabat. Nama tasawuf juga tidak ada dalam al-Qur’an, tetapi substansi ajaran tasawuf sangat dekat sekali dengan kehidupan Rasulullah sendiri. Bertasawuf artinya berusaha menempuh perjalanan rohani mendekatkan diri kepada Tuhan hingga merasa dekat sedekat mungkin dengan-Nya. Tasawuf muncul sebagai bentuk pelarian dari kehidupan yang glamour, kehidupan yang penuh dengan tipu daya untuk lebih berkonsentrasi beribadah kepada sang maha pencipta.
Salah satu cabang tasawuf, yaitu tasawuf akhlaqi, yang mengajarkan mengenai moral (akhlak) yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Berdasarkan tujuannya, tasawuf berupaya membentuk watak manusia yang memiliki sikap mental dan perilaku yang baik (akhlaqul karimah), manusia yang bermoral dan memiliki etika serta sopan santun, baik terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan maupun Tuhan. Inilah yang pada hakikatnya dinamakan manusia sempurna (insan kamil). Dengan demikian untuk menjadikan insan kamil, tasawuf memiliki andil yang sangat penting.
Oleh karenanya, pendidikan tasawuf semakin penting dan mendesak melihat situasi yang dihadapi zaman ini. Pengaruh globalisasi yang menawarkan (disamping sesuatu yang positif), ada nilai ekses negatif, seperti konsumerisme, seks bebas, narkoba, pelampiasan nafsu manusiawi dengan melupakan hidup imani dan rohani. Kemerosotan moral berbangsa masyarakat kita; korupsi, pemerasan, pencurian, penindasan, gratifikasi seks, pelacuran bukan barang asing lagi. Pasar bebas yang menyebabkan hanya orang yang bermutu dan kuat dapat menang, sedangkan yang lemah dan tidak bermutu akan mati. Lapangan kerja yang makin sempit, persoalan hidup yang makin kompleks, dan membutuhkan semangat dan daya juga dalam hidup ini. Kepekaan sosial masyarakat yang makin berkurang dan perkembangbiakan individualisme yang makin tinggi di zaman ini.
Bahwa menjadikan manusia adalah hakikat dan tugas pokok pendidikan. Menurut Attiyah al-Abrasyi, tujuan pokok pendidikan Islam yaitu pendidikan budi pekerti dan pendidikan jiwa (mental spiritual). Secara umum yang menjadi dasar dalam pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk mampu menjalankan kehidupan (preparing children for life) bukan sekedar mempersiapkan peserta didik untuk sebuah pekerjaan. Sehingga dengan kata lain dapat dikatakan pendidikan bertujuan membantu anak didik untuk dapat memuliakan hidup, artinya pendidikan ditantang tidak hanya membantu peserta didik agar hidupnya berhasil, tetapi membantu agar hidupnya lebih bermakna. Untuk itu dalam mendidik anak tidak bisa lepas dari ajaran Islam yang berintikan pada ajaran akidah, ibadah, syariat, dan akhlak, yang semuanya mengacu kepada pendidikan akhlak dan pembinaan mental spiritual.
Dalam ajaran Islam ada beberapa metode (jalan atau cara) yang ditempuh dalam melaksanakan pendidikan akhlak dan pembinaan mental spiritual. Salah satu diantaranya adalah melalui metode pendidikan tasawuf (tazkiyah al-nafs atau pembentukan jiwa Islami). Dalam ayat-ayat al-Qur’an ditegaskan bahwa pendidikan mental merupakan misi atau tugas pokok dari risalah para nabi dan rasul, tujuan hidup bagi orang yang bertakwa, tempat bergantung keselamatan dan kesengsaraan manusia di dunia dan akhirat. Dengan demikian dapat dikatakan pembinaan mental adalah tugas pokok dan penting para nabi dan rasul Allah SWT, tugas ta’lim (pengajaran) dan takzir (peringatan). Ulama sebagai pewaris nabi berkewajiban untuk mengembangkan dan mensukseskan tugas spiritualisasi tersebut.
Berpijak dari kenyataan kondisional manusia dengan nalar kreatifnya, maka salah satu konsep pendidikan dalam tasawuf adalah tazkiyah al-nafs, sebab jika jiwa seseorang bersih maka kesadarannya akan menjadi tinggi, sebaliknya, jika jiwanya kotor kesadarannya menjadi rendah dan pikirannya tidak stabil.
Selaras dengan hal tersebut di atas, ajaran Islam mengatakan bahwa hidup tidak boleh hanya dikendalikan kebutuhan jasmani, tetapi harus ada keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Idealnya keseimbangan rohani harus lebih tinggi daripada keseimbangan jasmani, sehingga dominasi jasmani (ragawi) tidak akan mempengaruhi rohani (jiwa).
Upaya untuk mengatasi permasalahan di atas, metode pendidikan tasawuf diterapkan di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab. Untuk mendukung dan mewujudkan pendidikan tasawuf ini KH. Kharisudin Aqib merumuskan suatu kurikulum yang dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Tasawuf dan Informatika (Kurikulum Mistiko Informatika). Kurikulum Mistiko Informatika adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab.
Pada hakikatnya, pendidikan agama Islam adalah pendidikan jiwa. Hakikat manusia adalah jiwanya. Dialah raja dalam tubuh, sehingga apa saja yang dilakukan oleh anggota tubuhnya adalah atas perintah jiwanya. Jika jiwanya jahat, maka jeleklah perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuhnya. Sebaliknya, jika jiwanya baik, maka luhur pulalah perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuhnya. Dengan demikian mendidik jiwa berarti telah mendidik hakikat manusia dan akan berdampak pada seluruh totalitas kemanusiaannya. Prinsip-prinsip filsafat pendidikan Islam ini merupakan bagian kajian dari tasawuf.
Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa pendidikan tasawuf dan implementasinya penting diteliti serta dikembangkan ajarannya dari sudut pandang ilmu pendidikan, ilmu jiwa (psikologis), pendidikan akhlak dan pendidikan mental spiritual, agar dapat menjadi sumbangan yang berharga bagi kebahagiaan (kesuksesan) manusia di dunia dan akhirat. Dari pengantar di atas penulis bermaksud akan melakukan penelitian ilmiah dengan menyusun sebuah karya ilmiah yang berjudul Implementasi Pendidikan Tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Kelutan Ngronggot Nganjuk.
B. Rumusan Masalah
Fenomena perilaku masyarakat sebagaimana dipaparkan di atas, terlebih generasi muda yang pada umumnya kian hari semakin bobrok. Untuk itu perlu dirumuskan kembali arti penting pendidikan memanusiakan manusia dan menghambakan diri kepada sang Khalik, maka permasalahan yang perlu dirumuskan dalam tesis ini mengenai pendidikan tasawuf adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab?
2. Materi apa saja yang disampaikan dalam pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab.
2. Mendeskripsikan materi yang disampaikan dalam pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab.
D. Kegunaan Penelitian
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, bagi ilmu psikologi pada umumnya dan ilmu psikologi pendidikan pada khususnya, dengan memberi masukan mengenai pendidikan mental dalam upaya bertaqarrub kepada sang khaliq dan menjadikan manusia seutuhnya.
2. Secara Praktis
a. Bagi pendidik dan santri, penelitian ini bisa dimanfaatkan sebagai acuan untuk meningkatkan kedekatan kepada Tuhan dan membuat hidup lebih bermakna.
b. Bagi masyarakat umum, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang usaha-usaha meningkatkan kedekatan kepada Tuhan dan membuat hidup lebih bermakna.
c. Bagi peneliti selanjutnya atau pihak-pihak lainnya yang berkompeten dan berminat pada masalah yang ada kemiripan dengan kajian ini, hasil penelitian ini dapat menjadi informasi, referensi dan kontribusi sehingga bisa melakukan penelitian serupa atau dengan variabel lain yang mempengaruhi.
E. Definisi Istilah
Berikut ini adalah beberapa keterangan yang berkaitan dengan pengertian istilah oleh responden dan sasaran penelitian.
1. Pesantren. Institusi pendidikan dan pengajaran agama Islam, umumnya dengan cara non-klasik (tanpa kelas), yakni seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama abad pertengahan. Para santri sebagian besar tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.
2. Kiai. Seorang pakar dan penganut agama Islam yang mengajarkan ilmunya kepada santri. Beliau merupakan pemimpin dan pemilik pesantren tersebut.
3. Santri. Sebutan untuk seorang “murid” di pesantren. Biasanya tinggal di pondok (asrama), meskipun adakalanya mereka tinggal di rumah sekitar pesantren.
4. Mursyid. Seorang guru (syeikh) dalam tarekat. Bertugas membimbing murid yang telah berbaiat dan menyatakan siap untuk dibimbing.
5. Tasawuf. Sebuah cabang ilmu agama Islam yang memfokuskan kajiannya pada pembentukan akhlak melalui pembersihan diri agar dapat sedekat mungkin dengan Tuhannya.

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dikaji dan dianalisis data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya.
A. Pelaksanaan Pendidikan Tasawuf
Pelaksanaan pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Nganjuk dilakukan dengan metode ta’alim, metode ta’dib dan metode irsyad. Metode pendidikan tasawuf tersebut diterapkan agar tujuan yang telah ditetapkan tercapai sesuai dengan kurikulum yang ditentukan. Secara rinci uraian dan analisis data berdasarkan temuan data-data adalah sebagai berikut:
1. Metode Ta’lim
Secara etimologis kata ta’lim berasal dari bahasa Arab yang berarti pengajaran, (masdar dari عَـلَّمُ – يُعَـلِّمُ – تَعْـلِيْمًا). Sedangkan secara terminologis ta’lim berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan dan keterampilan. Menurut Abdul Fattah Jalal, ta’lim merupakan proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya (keterampilan).
Mengacu pada definisi ini, ta’lim berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ menjadi posisi ‘tahu’ seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
2.     •           . (النحل: 78)
“Dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl [16]: 78).
Dari pengertian di atas, yang dimaksud pendidikan tasawuf melalui metode ta’lim adalah pendidikan tasawuf melalui proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab tentang hal-hal yang berkaitan dengan tasawuf.
Dalam pelaksanaannya, metode ta’lim diterapkan melalui pengajaran yang dilakukan secara klasikal dan nonklasikal, dilakukan secara terstruktur dan tidak terstruktur. Pengajaran yang dilakukan secara terstruktur adalah pengajaran yang dilaksanakan pada madrasah diniah, dimana kurikulum yang disampaikan sudah terstruktur dalam bentuk kurikulum yang disebut dengan Kurikulum Tasawuf Berbasis Informatika (KBTI). Sedangkan pengajaran yang tidak terstruktur dalam hal ini berupa penyampaian pengetahuan melalui forum kajian umum yang dilakukan sewaktu-waktu.
Secara sederhana, metode ta’lim diwujudkan dengan kegiatan pengajaran ilmu agama dari seseorang kepada sekumpulan khayalak pada suatu tempat tertentu. Bentuknya yang paling mudah adalah pengajian rutin yang diadakan pada malam-malam tertentu di masjid-masjid tertentu. Sedangkan pengajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa. pengajaran juga diartikan sebagai interaksi belajar dan mengajar. Pengajaran berlangsung sebagai suatu proses yang saling mempengaruhi antara guru dan siswa.
Pada dasarnya kedua istilah itu sama, perbedaannya kata ta’lim lebih banyak digunakan pada pengajaran ilmu agama, sedangkan pengajaran lebih banyak digunakan pada pengajaran ilmu umum.
3. Metode Ta’dib
Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman, yang dibiasakan itu adalah sesuatu yang diamalkan. Metode pembiasaan juga digunakan oleh Al-Qur’an dalam memberikan materi pendidikan melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini termasuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang negatif. Kebiasaan ditempatkan oleh manusia sebagai sesuatu yang istimewa. Ia banyak sekali menghemat kekuatan manusia, karena sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan, agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang pekerjaan, berproduksi dan aktivitas lainnya.
Pembiasaan dalam pendidikan agama hendaknya dimulai sedini mungkin. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang tua, dalam hal ini para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan sholat, tatkala mereka berumur tujuh tahun. Hal tersebut berdasarkan hadis di bawah ini:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ. (أَبو دَاوُد)
“Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud).
Membiasakan anak shalat, lebih-lebih dilakukan secara berjamaah itu penting. Sebab dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena banyak dijumpai orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata-mata. Tanpa itu hidup seseorang akan berjalan lambat sekali, sebab sebelum melakukan sesuatu seseorang harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan (Ramayulis: 184).
Adapun implementasi pembiasaan yang dilakukan di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab adalah sebagai berikut:
a. Menjaga pola makan
Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan. Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktifitas sehari-harinya, termasuk beribadah. Makanan dapat membantu kita dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan (jasmani) dan otak. Islam memiliki aturan yang sangat komprehensif terkait dengan hal ini. Islam memerintahkan kaum muslimin untuk makan dan minum. Untuk itu Kharisudin Aqib merumuskan pola makan, agar makanan yang dimakan berfungsi sesuai fungsi pokoknya, yaitu menjaga perkembangan tubuh dan kecerdasan integratif. Pola makan tersebut adalah:
1) Makanan yang dimakan harus halal lagi tayyib. Makanan yang halal akan mencerdaskan spiritual, makanan yang subhat (tidak jelas halal-haramnya) akan menumpulkan kecerdasan spiritual. Sedangkan makanan yang haram akan menumpulkan kecerdasan emosional dan spiritual sekaligus. Halal dan haram disini dipandang dari segi perolehan maupun materinya. Selain itu makanan yang dimakan juga harus tayyib (bergizi). Karena pada hakikatnya tubuh manusia hanya memerlukan kandungan gizi yang ada dalam makanan seperti karbohidrat, protein, mineral, kalsium, lemak, dan sebagainya. Berkaitan dengan hal ini Allah swt berfirman.
 ••            (البقرة: 168)
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan…” (QS Al-Baqarah [2]: 168).
2) Makan-minum tidak berlebihan. Ukuran banyak-sekitnya suatu makanan, dapat dilihat dari secara umum berdasarkan ukuran individual atau personal. Nabi memberikan contoh dalam hal ini, Beliau tidak makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang.
3) Menyedikitkan makan (sering berpuasa). Puasa adalah ajaran para nabi, bahkan puasa merupakan cara alami yang dipergunakan seluruh makhluk hidup seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Membiasakan berpuasa akan berdampak pada kecerdasan emosional dan spiritual. Puasa yang dianjurkan adalah puasa sebagaimana dilakukan para nabi seperti
4) Tidak makan menjelang tidur. Makan menjelang tidur akan mengganggu sistem kerja pencernaan makanan, pola makan yang sehat, dilaksanakan paling dekat dua am sebelum tidur.
b. Menjaga pola tidur-bangun
1) Santri harus mengetahui pergantian malam ke siang atau siang ke malam, artinya tidak boleh tidur pada waktu matahari terbit atau terbenam.
2) Cepat tidur (antara pukul 21.00 – 22.00 wib) dan cepat bangun (antara pukul 03.00 – 04.00 wib).
c. Menjaga pola ibadah
1) Menjaga kedisiplinan dalam ibadah, baik yang berkait dengan jenis ibadah, waktu, tempat dan bilangan ibadah diusahakan konsisten (istiqamah).
2) Bersegera melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah, dengan sikap hormat dan peduli.
3) Mengusahakan khusyuk dalam ibadah, dengan penghayatan dan senantiasa merasa dipantau oleh Allah swt.
4) Berusaha melakukan qiyāmul lail, salat tahajjud dan membaca al-Qur’an di waktu menjelang subuh atau waktu sahur.
d. Menjaga pola bergaul
1) Bergaul dengan orang-orang saleh (orang yang pola pikir dan tindakannya selalu konstruktif).
2) Jika merasa ada kemampuan, mengajak orang yang tidak saleh menjadi lebih saleh.
3) Tidak banyak gurau, karena banyak bergurau memastikan hati.
4) Menjaga pandangan mata dan hati dari maksiat kepada Allah.
5) Berusaha untuk selalu berpikir positif (husnuzan) dan konstruktif.
e. Melakukan zikir tazkiyah
Zikir ini diperlukan sebagai sarana untuk mengingat Allah dan sebagai sarana pembersih jiwa. Allah telah memberikan panduan dan tata cara untuk membersihkan jiwa manusia melalui rasul utusanNya. Peribadatan yang diajarkan oleh para rasul adalah tata cara pembersihan jiwa secara umum, seperti salat, membaca al-Qur’an, puasa, zakat dan haji. Sedangkan tata cara yang lebih khusus dijadikan sebagai sarana untuk membersihkan jiwa yaitu dengan zikir. Karena memang zikir ini yang merupakan alat pencuci jiwa.
Adapun yang dimaksud dengan zikir dalam tradisi Islam adalah aktifitas lisan maupun hati untuk menyebut dan mengingat asma Allah, baik berupa jumlah (kalimat), maupun ism zat (nama Allah). Penyebutan zikir tersebut harus telah dibaiatkan atau ditalqinkan oleh seorang mursyid yang muttasil al-fayd (bersambung sanad dan berkahnya). Inilah yang dimaksud dengan zikir tazkiyah.
Menurut Kharisudin Aqib agar seseorang dapat melakukan zikir dengan konsisten (istiqamah), maka seorang murīd harus:
1) Menghadap guru mursyid untuk meminta inisiasi dan bimbingan zikir tazkiah, karena zikir tazkiyah ini harus melalui bimbingan guru mursyid.
2) Melakukan meditasi aktif (zikir nafi iṡbat) secara aktif tiap selesai salat maktubah (lima waktu).
3) Melakukan meditasi pasif (zikir laṭaif) minimal 25 menit sehari semalam.
4) Berusaha menyempatkan diri untuk berkontemplasi (tafakkur) dan muraqabah.
4. Metode Irsyad
Secara luas, irsyad dapat diartikan dengan petunjuk atau bimbingan. Sedangkan pelakunya adalah mursyid yang artinya orang yang ahli dalam memberi petunjuk dalam bidang agama. Menurut pengertian ini, yang disebut mursyid adalah orang-orang yang ditugasi oleh Allah SWT untuk menuntun, membimbing dan menunjukkan manusia ke jalan yang lurus atau benar dan menghindarkan manusia dari jalan yang sesat, sebagaimana diungkapkan oleh sufi besar Abū Yazīd al-Bustamīy: “Seseorang yang melakukan amalan tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah setan.” Senada dengan hal ini `Ali al-Daqāq berkata: “Sebatang pohon tatkala tumbuh dengan sendirinya tanpa ada seseorang yang merawatnya, maka pohon tersebut berdaun tetapi tidak akan berbuah. Begitu juga seorang murīd (salik) tatkala tidak ada pembimbing tarekat yang diikutinya, satu orang dari yang lainnya, maka ia menyembah hawa nafsunya dan tidak akan menemukan jalan terbuka.”
Menurut Rasulullah SAW, bahwa jajaran petugas-petugas Allah SWT yang memimpin dan membimbing umat adalah para nabi, rasul, dan khalifah Allah (khulafa al-rāsyiduīn al-mahdiyyīn) yakni Khalifah Allah dan Khalifah Rasulullah yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk dari Allah SWT, Nabi bersabda:
Dari Abu Hurairah ra. menyatakan: Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu kaum Bani Isra’il dipimpin oleh para Nabi. Setiap seorang nabi meninggal dunia, maka diganti seorang nabi lainnya. Maka sesungguhnya tidak ada nabi yang menggantikan setelah aku meninggal dunia, namun yang menggantikanku adalah khalifah-khalifah. Maka mereka banyak mempunyai pengikut-pengikut”, Sahabat bertanya, “Wahai Rasul apa yang engkau perintahkan pada kami?” Rasul menjawab, “Laksanakan baiat seperti baiat pertama kali di hadapan mereka dan tunaikan hak-hak mereka, kalian mintalah kepada Allah yang menjadi bagian kalian, karena Allah Ta’ala menanyakan tentang apa yang mereka pimpin.” (HR. Bukhari Muslim).
Irsyad pada hakikatnya merupakan pertolongan Allah terhadap manusia, sehingga yang bersangkutan dapat selamat dari perilaku hidup yang negatif dan terpenuhi kemauannya oleh Allah untuk terus berjalan di jalan yang lurus. Dalam hal ini diartikan sebagai proses bimbingan bagi seorang salik menuju kesempurnaan. Sedangkan mursyid adalah seorang guru pembimbing dalam ilmu haqiqat atau ilmu tarekat.
Mengingat pembahasan dalam ilmu haqiqat atau ilmu tarekat adalah tentang Tuhan yang merupakan zat yang tidak bisa diindera, dan rutinitas tarekat adalah zikir yang sangat dibenci syetan. Maka untuk menjaga kebenaran, kita perlu bimbingan seorang mursyid untuk mengarahkannya. Sebab penerapan asma’ Allah atau pelaksanaan zikir yang tidak sesuai bisa membahayakan secara rohani maupun mental, baik terhadap pribadi yang bersangkutan maupun terhadap masyarakat sekitar, bahkan bisa dikhawatirkan salah dalam beraqidah. Seorang mursyid inilah yang akan membimbing salik untuk mengarahkannya pada bentuk pelaksanaan yang benar. Hanya saja bentuk ajaran dari masing-masing mursyid yang disampaikan berbeda-beda, tergantung aliran tarekatnya. Namun pada dasarnya pelajaran dan tujuan yang diajarkannya adalah sama, yaitu al-wushul ilallāh.
Melihat begitu pentingnya peranan mursyid, maka seorang syekh atau mursyid harus menguasai ilmu syariat dan ilmu haqiqat secara mendalam dan lengkap. Pemikiran, perkataan dan perlakunya harus mencerminkan akhlak terpuji. Dalam membimbing murīd-murīdnya, mursyid dibantu oleh beberapa wakil yang disebut khalifah atau badal. Dalam tradisi tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, para wakil mursyid biasa disebut wakil talqin. Ini dikaitkan dengan salah satu fungsi utama mursyid tarekat, yakni memberikan talqin kepada calon murīd yang akan mengikuti latihan tarikat.
Otoritas mutlak mursyid dalam masalah spiritual maupun material terhadap murīd-murīdnya adalah salah satu ciri khas dalam tarekat, sehingga mursyidlah yang berhak membaiat murīdnya. Akibatnya muncul pengkultusan terhadap guru atau mursyid. Akan tetapi pengkultusan tersebut hanya sebatas menjadikan guru sebagai penyambung antara dirinya dengan Allah. Karena bagi mereka guru adalah manusia yang sudah mencapai kedekatan dengan Allah swt, sehingga tidak mengherankan apabila dalam tarekat segala sesuatunya bergantung kepada ketetapan guru.
Imam al-Gazāliy mengatakan bahwa seorang murīd boleh menghormati seorang guru seperti halnya seorang hamba menghormati Tuhannya, selama guru tersebut bisa menjaga agama Allah. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk berbuat maksiat kepada Tuhannya.
Sebagaimana dijelaskan di atas, dalam pelaksanaannya pendidikan tasawuf Kharisudin Aqib menggunakan media tarekat. Media diperlukan bagi murīd yang siap dan berinisiasi untuk dibimbing. Sebagai langkah awal yang pertama kali harus dilakukan adalah berbaiat kepada syekh atau mursyid.
Adapun proses pembaiatan pada tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang dilaksanakan di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab adalah sebagai berikut:
a. Calon murīd harus dalam keadaan suci, duduk menghadap mursyid dengan posisi duduk ‘aks tawarruk (kebalikan duduk tasyahud akhir). Dengan kekhusyuan, taubat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada mursyid untuk dibimbing.

Gambar 1. Posisi duduk ‘aks tawarruk
b. Selanjutnya murīd bersama-sama dengan mursyid membaca kalimat berikut ini:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِى بِفُتُوْحِ الْعَارِفِيْنَ – 7 مررات
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى الْحَبِيْبِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ مُحَمَّدُ النَّبِيِّ الْهَادِى اِلَى صِرَاطَ الْمُسْتَقِيْمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ – 3 مرات
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ – 3 مرات
c. Kemudian syekh atau mursyid mengajarkan zikir, dan selanjutnya murīd menirukan:
لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهِ, سَيِّدِنَا مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ – 3 مرات
d. Kemudian keduanya membaca salawat munjiat:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْأَفَاتِ وَتَقْضِى لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّأَتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُـنَا بِهَا أَقْصَى الْغَيَات مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ.
“Ya Allah sejahterakan tuan kami Muhammad yang dengan kesejahteraan itu Engkau loloskan kami dari semua bala dan bahaya, Engkau kabulkan hajat-hajat kami dengannya, Engkau sucikan kami dari semua kejelekan, Engkau angkat kami kepada derajat yang tertinggi, Engkau sampaikan cita-cita kami yang masih jauh dari semua hal yang baik dalam kehidupan ini, maupun setelah kematian.”
e. Kemudian membaca ayat:
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّـيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَـايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ الله يَدَالله فَوْقَ اَيْدِيَهُمْ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ اَوْفَى بِمَا عَاهَدُ عَلَيْهِ اللهِ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bahwasanya ornag-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka Barangsiapa yang melanggar janjinya, akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri, dan baangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”
f. Kemudian berhadiah fatihah kepada Rasulullah SAW para masyāyikh ahl silsilah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, khususnya Syekh Abdul Qādir al-Jilāniy dan Syekh Abū al-Qasim al-Junaidi al-Bagdadiy.
g. Kemudian syekh atau mursyid berdoa untuk murīdnya sekedarnya.
h. Selanjutnya mursyid memberikan tawajjuh kepada murīd 1000 kali atau lebih. Tawajjuh dilakukan dengan memejamkan kedua mata rapat-rapat, mulut juga ditutup rapat-rapat dengan menyentuhkan lidah ke langit-langit mulut disertai menyebut nama Allah dalam hati 1000 kali dengan dikonsentrasikan ke arah sanubari dan begitu pula murīd juga melakukan hal yang serupa.
Setelah pembaiatan selesai, maka ini berarti proses bimbingan itu dimulai. Bimbingan ini dapat berupa penyampaian mengenai amalan-amalan apa yang harus dilakukan seorang sālik, dapat juga berupa bimbingan bagaimana cara melakukan zikir yang benar menurut tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.
Selanjutnya, agar tujuan taqarrub pada Allah tercapai seorang murīd harus melakukan amalan-amalan yang diajarkan oleh syekh atau mursyid. Pengamalan-pengamalan ini juga sebagai bentuk riyadah. Adapun riyadah yang harus dilaksanakan setiap murīd (dalam hal ini pengikut tarekat TQN di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab) adalah melakukan amalan-amalan khusus dan umum, baik yang bersifat individual maupun kolektif. Untuk lebih jelasnya akan dirinci pada paragraf berikut ini.
a. Amalan khusus
1) Amalan khusus individual
a) Mengamalkan zikir
Secara lugawi kata zikir menurut bahasa artinya ingat. Sedangkan zikir menurut pengertian syariat adalah mengingat Allah SWT dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Zikir dalam tarekat ini adalah mengingat dan menyebut asma Allah baik secara lisan (jahr) maupun secara batin (sirr). Dalam tarekat, zikir diyakini sebagai cara paling efektif dan efisien untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoran dan penyakit-penyakit hati. Oleh karena itu, hampir semua tarekat menggunakan metode zikir. Bahkan dalam terminologi tasawuf, setiap yang disebut tarekat selalu mengacu pada tarekat zikir.
Zikir yang harus dilakukan ada dua macam, yaitu zikir karamāt (wajib) dan zikir hasanāt (sunnah). Zikir karamāt adalah zikir yang tata cara pengamalannya telah ditetapkan oleh guru yang telah mengajarinya. Sedangkan zikir hasanāt adalah amalan zikir yang tata caranya tidak ditetapkan atau tidak terikat oleh hitungan, tempat dan waktu tertentu.
Adapun tujuan dan manfaat mengamalkan zikir karamat adalah agar mendapatkan buahnya zikir yang bersifat duniawi atau ukhrawi, yakni ketentraman, perubahan perilaku, dan lain-lain. Sedangkan zikir hasanat adalah zikir yang diamalkan hanya semata-mata mencari pahala ukhrawi.
Zikir karamat yang dipegangi oleh seorang ahli tarekat qadiriyah wa naqsyabandiyah adalah zikir nafi iśbat (lā ilāha illallāh) dengan jahr (bersuara) dan zikir ismu żat (zikir dengan asma zat Allah, yakni Allah, Allah, Allah) dengan sirr (tanpa bersuara) yang tatacaranya secara praktis sesuai dengan kebijaksaan pengajaran guru mursyid.
Amalan zikir ismu zat ini bisa dilakukan satu kali duduk, bisa juga dilakukan secara kredit setiap selesai salat fardlu atau di waktu-waktu lain yang memungkinkan. Kedua jenis zikir itu ditalqinkan sekaligus oleh seorang mursyid pada waktu talqin pertama kali. Agar zikir dapat memberi hasil yang optimal dalam proses pembersihan jiwa, maka seorang zākir sebelum melaksanakan zikir harus memperhatikan adab zikir yaitu:
1) harus suci dari hadas dan najis, baik badan, pakaian maupun tempatnya.
2) menghadap kiblat, sebagai arah yang terbaik dalam beribadah.
3) duduk aks’ tawarruk (kebalikan duduknya takhiyat akhir).
4) rabiţah (mengingat rupa guru yang mengajar zikir, sebagai pernyataan batin, bahwa dirinya makmum kepada guru tersebut).
Adab ini berlaku untuk pelaksanaan kedua jenis zikir tersebut, zikir nafi iśbat dan zikir ismu żat. Adapun amalan zikir hasanatnya adalah semua zikir ma’śurat (yang diajarkan oleh Nabi) secara umum dalam setiap kesempatan atau menambahi jumlah zikir karamat (baik zikir jahr maupun zikir sirr) yang telah menjadi kewajiban hariannya dalam hitungan yang sebanyak-banyaknya.
b) Muraqabah
Secara etimologi, muraqabah berarti mengintai dan mengawasi dengan penuh perhatian. Sedangkan dalam dunia tasawuf muraqabah diartikan duduk bertafakur atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, dengan penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah, meyakinkan hati bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya. Latihan muraqabah ini menjadikan seseorang memiliki nilai ihsan yang baik, dan dapat merasakan kehadiran Allah dimana saja dan kapan saja berada.
Kontemplasi atau muraqabah duduk bertafakkur atau mengheningkan cipta dengan penuh kesungguhan hati, dengan penghayatan bahwa dirinya seolah-olah berhadapan dengan Allah, meyakinkan hati bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya, sehingga dengan latihan muraqabah ini seseorang akan memiliki nilai ihsan yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja ia berada.
Ajaran muraqabah ini bermacam-macam, dan memiliki beberapa pembagian. Ada di antara tarekat yang mengajarkan satu macam (tingkatan), ada yang empat. ada yang tujuh, dan bahkan ada yang dua puluh macam atau tingkatan muraqabah.
Pelaksanaan muraqabah oleh seorang murīd berdasarkan izin dan baiat muraqabah dari mursyidnya. Teknis pembaiatan dilakukan satu persatu secara bertahap, tetapi bisa juga bertahap empat sekaligus. Muraqabah selanjutnya dilakukan setiap usai salat fardu, setelah mengerjakan zikir nafi iśbat dan zikir laţaif.
c) Rābiţah
Rābiţah adalah mengingat rupa guru (syeikh) dalam ingatan seorang murīd. Praktek rābiţah ini merupakan adab dalam pelaksanaan zikir seseorang. Sebelum seorang zakir melaksanakan zikirnya, maka terlebih dahulu ia harus mereproduksi ingatannya kepada syekh yang telah mentalqin zikir yang akan dilaksanakan tersebut. Bisa berupa wajah syekh, seluruh pribadinya atau prosesi ketika ia mengajarkan zikir kepadanya. Atau bisa juga hanya sekedar mengimajinasikan seberkas sinar (berkah) dari syekh tersebut.
Rābiţah ini harus dilakukan oleh seorang zākir dengan maksud antara lain sebagai pernyataan bahwa apa yang diamalkan itu adalah berdasarkan pengajaran dari seorang syekh yang memiliki otoritas (semacam referensi). Rābiţah juga berfungsi sebagai mengambil dukungan spiritual dari seorang syekh. Dengan melakukan rābiţah yang benar dan sempurna, seorang zakir akan terhindar dari was-was (keraguan) dan godaan setan. Rābiţah ini terkadang juga disebut tawajjuh, karena proses rabiţah harus mengimajinasikan diri seolah-olah sedang berhadapan dengan syekhnya, sebagaimana syekhnya mengajarkan zikir kepadanya dahulu.
d) Mengamalkan syariat
Dalam tarekat (yang kebanyakan merupakan jama’ah para sufi sunni), menepati syariat merupakan bagian dari bertasawuf (meniti jalan mendekati kepada Tuhan). Karena menurut keyakinan para sufi sunni, justru perilaku kesufian itu dilaksanakan dalam rangka mendukung tegaknya syariat. Dalam hal ini Kharisudin mengatakan pengamalan syariat mutlak harus dilakukan oleh seorang salik.
Sedangkan ajaran-ajaran dalam agama Islam, khususnya peribadatan mahdah, merupakan media atau sarana untuk membersihkan jiwa seperti bersuci dari hadas, salat, puasa maupun haji.
e) Melaksanakan amalan sunnah
Diantara cara yang diyakini dapat membantu untuk membersihkan jiwa dan segala macam kotoran dan penyakitnya adalah amalan-amalan sunnah. Sedangkan di antara amalan-amalan tersebut yang diyakini memiliki dampak besar terhadap proses dan sekaligus hasil dari tazkiyat al-nafs adalah membaca al-Qur’an dengan menghayati arti dan maknanya, melaksanakan salat malam (tahajjud), berzikir di malam hari, banyak berpuasa sunnah dan bergaul dengan orang-orang saleh.
Selain itu amalan-amalan sunnah di atas, Kharisudin menambahkan amalan dengan taqlīlu al-ṭa’ām (menyedikitkan makan) dan taqlīlu al-niyām (menyedikitkan tidur). Adapun taqlīlu al-ṭa’ām (menyedikitkan makan) dimaknai dengan seringnya melakukan puasa-puasa sunnah, Senin-Kamis, atau puasa Nabi Daud.
f) Berperilaku zuhud dan wara’
Kedua perilaku sufistik ini akan sangat mendukung upaya tazkiyat al-nafs, karena zuhud adalah tidak adanya ketergantungan hati pada harta dan hal-hal yang bersifat dunia lainnya. Wara’ adalah sikap hidup yang selektif, orang yang berperilaku demikian tidak berbuat sesuatu, kecuali benar-benar halal dan benar-benar dibutuhkan. Rakus terhadap harta akan mengotori jiwa, demikian juga banyak berbuat yang tidak baik, memakan yang tidak jelas status halal-haramnya (syubhat) dan berkata sia-sia akan memperbanyak dosa dan menjauhkan diri dari Allah, karena melupakan Allah.
g) Khalwat atau ‘uzlah
Khalwat adalah merupakan sifat orang sufi. Sedangkan ‘uzlah adalah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan Allah SWT. Seharusnya bagi murīd pemula (yaitu orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah) agar ‘uzlah (mengasingkan diri dari bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwat (menyepi) sehingga sifat lemah lembut akan dapat tercapai. Hakikat khalwat adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan al-Haq yaitu Allah SWT. Hal demikian dikarenakan khalwat merupakan perjalanan rohani dari nafsu menuju hati, dan hati menuju ruh dan dari ruh menuju alam rahasia (sirr) dan dari alam rahasia menuju zat maha pemberi segalanya.
Sesungguhnya, ‘uzlah adalah menjauhi sifat-sifat hina, mengubah sifat-sifat hina tersebut, bukannya menjauhkan diri lewat jarak tempat. Untuk dapat beruzlah dengan tepat, seseorang harus mempunyai pengetahuan agama untuk memantapkan tauhidnya, agar setan tidak menggodanya dengan bisikan-bisikannya. Ia juga harus mempunyai pengetahuan yang dapat diperolehnya dari syariat tentang kewajibannya, agar segala urusannya berada di atas dasar yang kokoh.
Hamba yang melakukan ‘uzlah harus diniatkan karena Allah SWT dengan maksud dan niat menjaga keselamatan orang lain dari perangai buruknya. Dan janganlah bermaksud menjaga keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena pernyataan yang pertama adalah wujud dari sikap rendah hati (tawadu’) sedangkan pernyataan yang kedua adalah menunjukkan sifat sombong yang ada pada dirinya.
Sebagian dari tatacara ‘uzlah adalah untuk memperoleh ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid. Selain itu untuk memperoleh ilmu syariat atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya menjadi pondasi yang kuat-untuk dilaksanakan. Esensi ‘uzlah adalah menghindarkan diri dari perbuatan tercela. Sedangkan hakikatnya adalah menggantikan sifat yang tercela untuk diisi dengan sifat yang terpuji, bukan untuk menjauhkan diri dari tempat tinggalnya.
2) Amalan khusus kolektif: khataman
Kata khataman berasal dari kata خَتَمَ – يَخْتُمُ – خَتَمًا artinya selesai, menyelesaikan. Maksud khataman dalam hal ini adalah menyelesaikan atau menamatkan pembacaan aurād (wirid-wirid) yang menjadi ajaran TQN pada waktu-waktu tertentu.
Kegiatan ini merupakan upacara ritual yang biasanya dilaksanakan secara rutin di semua cabang kemursyidan. Ada yang menyelenggarakan sebagai kegiatan mingguan, tetapi banyak juga yang menyelenggarakan kegiatannya sebagai kegiatan bulanan. Walaupun ada sementara kemursyidan yang menamakan kegiatan ini dengan istilah lain, yaitu hususiyah atau tawajjuhan, tetapi pada dasarnya sama, yaitu pembacaan rātib atau aurad khataman sebuah tarekat.
Dari segi tujuannya, khataman merupakan kegiatan individual, yakni amalan tertentu yang harus dikerjakan oleh seorang murīd yang telah mengkhatamkan pendidikan zikir sirr (tarbiyat zikir lata’if). Dan khataman sebagai suatu ritus (upacara sakral) dilakukan dalam rangka tasyakuran atas keberhasilan seorang murīd dalam melaksanakan sejumlah beban dan kewajiban. Tetapi dalam prakteknya khataman merupakan upacara ritual yang resmi lengkap dan rutin, sekalipun mungkin tidak ada yang sedang syukuran khataman.
Kegiatan khataman ini biasanya juga disebut mujahadah, karena memang upacara dan kegiatan ini dimaksudkan untuk mujahadah (bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas spiritual para sālik), baik dengan melakukan zikir dan wirid, maupun dengan pengajian dan bimbingan rohaniah oleh mursyid.
Disamping manfaat yang bersifat praktis tersebut, upacara khataman oleh penganut tarekat ini diyakini sebagai majelis yang sangat besar kemanfaatan dan berkahnya. Diantara manfaat dan keutamaan majelis khataman tersebut antara lain:
1) menjadi sebab turunnya berkah dan rahmat Allah
2) mengamankan perkara yang mengkhawatirkan
3) mempermudah berhasilnya hajat dan cita-cita
4) menaikkan tingkatan spiritual
5) meningkatkan derajat, baik di dunia maupun di akhirat
6) menambah istiqamah dalam beribadah dan mengantarkan pada akhir kehidupan yang husnu al-khātimah.
7) sebagai forum tawajjuh, serta silaturrahmi antara para ikhwan.
Kegiatan khataman biasanya dipimpin langsung oleh mursyid atau asisten mursyid, dalam posisi berjamaah setengah lingkaran (membentuk huruf U) atau berbaris sebagaimana saf-saf jamaah salat dengan membaca bacaan-bacaan yang tersusun.
b. Amalan umum
1) Amalan umum individual
a) Wirid
Wirid adalah suatu amalan yang harus dilaksanakan secara terus menerus (istiqamah) pada waktu-waktu tertentu dan dengan jumlah bilangan tertentu juga. seperti setiap selesai mengerjakan salat lima waktu, atau waktu-waktu tertentu Iainnya. Wirid ini biasanya berupa potongan-potongan ayat atau salawat atau nama-nama indah Tuhan (al-asma’ al-husna). Perbedaannya dengan zikir di antaranya adalah kalau zikir diijazahkan oleh seorang mursyid atau syekh dalam prosesi khusus (bai’at, talqin, atau khirqah). Sedangkan wirid tidak harus diijazahkan oleh seorang mursyid dan tidak diberikan dalam prosesi khusus.
Dipandang segi tujuannya juga memiliki perbedaan diantara keduanya. Zikir dikerjakan hanya semata-mata ibadah (mendekatkan diri kepada Allah), sementara wirid dikerjakan untuk tujuan-tujuan tertentu yang bersifat keduniaan. Seperti untuk kelancaran rizki (jalb al-rizq), kewibawaan dan sebagainya.
b) Tawasul
Tawaşul atau berwasilah dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah yang biasa dilakukan di dalam tarekat adalah suatu upaya atau cara (wasilah), agar pendekatan diri kepada Allah dapat dilakukan dengan lebih ringan.
             . (المائدة: 35)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, supaya kamu menjadi orang yang beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 35).
Di antara bentuk¬ bentuk tawaşul yang biasa dilakukan adalah berhadiah bacaan surat al-Fātihah kepada para syekh sejak dari Nabi sampai mursyid yang mengajar zikir kepadanya.
Tawasul biasanya juga dilaksanakan dengan bentuk tawajjuh, yaitu menghadirkan wajah guru (mursyid) seolah-olah berhadapan dengannya ketika akan mengerjakan zikir. Istilah lain dari tawajjuh ini adalah rabiţah, yaitu mengikat ingatan tentang proses pembaiatan atau wajah yang membaiat. Ada juga bentuk lain dalam tarekat yang melaksanakan tawaşul dengan istigraq (mengekspresikan diri tenggelam dalam nur Muhammad), atau mengekspresikan bahwa dirinya adalah Muhammad itu sendiri.
c) Hizib
Hizib berasal dari bahasa Arab hizbun yang berarti partai, kelompok, golongan, jenis, wirid, bagian atau senjata. Dalam pembahasan kita ini arti hizbun yang cocok adalah jenis wirid atau senjata. Hizib secara bahasa berarti tentara, tetapi doa khusus tetapi sudah sangat populer di kalangan masyarakat Islam (pesantren) disebut dengan hizib (lawannya hiriş), adalah karena dengan doa ini seseorang akan memiliki kekuatan bagaikan orang yang memiliki tentara, karena khadam (pelayan makhluk gaib) yang ada dalam doa tersebut.
Hizib adalah suatu doa yang cukup panjang, dengan lirik dan bahasa yang indah yang disusun oleh seorang ulama besar. Hizib ini biasanya merupakan doa andalan seorang syekh yang biasanya juga diberikan kepada para murīdnya secara ijazah yang jelas (ijazah şarih). Doa ini diyakini oleh kebanyakan masyarakat Islam (kebanyakan kaum santri) sebagai amalan yang memiliki daya katrol spiritual yang sangat besar, terutama jika dihadapkan dengan ilmu-ilmu gaib dan kesaktian.
Walaupun hizib adalah susunan seorang wali mursyid, tetapi sepengetahuan penulis doa hizib tidak diberikan kepada para murīd tarekat. Akan tetapi hizib banyak diamalkan oleh ulama ahli ilmu hikmah (ilmu-ilmu ketabiban dan kesaktian yang berdimensi Islam). Sementera itu kebanyakan mursyid kurang sependapat dengan pengamalan hizib (khususnya bagi murīd tarekat), karena sehebat-hebatnya hizib tidak berarti jika diperbandingkan dengan Surat al-Fātihah. Dan juga ada seorang ahli ilmu hikmah yang mengatakan, bahwa khadam (kandungan kekuatan spiritual) semua hizib adalah jin muslim.
Hizib juga dianggap memiliki khawas, karena keterkaitannya dengan sang wali itu sendiri. Para wali Allah, seperti telah kita ketahui, orang yang sangat dekat dengan Allah SWT sehingga segala permohonannya insya Allah segera diijabah oleh Allah SWT. Berkaitan dengan hal tersebut penerus hizb bisa berwasilah via wali yang dimaksud, sehingga dipercaya oleh sebagaian besar pengikut sufi bahwa khawas dari sang wali akan timbul melalui hizb yang diriyadlahkan.
d) ‘Ataqah (fida’ akbar)
‘Ataqah atau penebusan diri dilaksanakan dalam rangka membersihkan jiwa dari kotoran atau penyakit-penyakit jiwa. ’Ataqah ini sebenarnya juga zikir. tetapi ia dilaksanaan dengan niat sebagai ‘ataqah (tebusan) nafsu tertentu, dan tidak semua tarekat mempergunakan istilah ini. Bahkan cara ini dikerjakan oleh sebagian tarekat sebagai penebus harga surga, atau penebusan pengaruh jiwa yang tidak baik (menghilangkan dorongan emosi dan tabi’at kebinatangan/untuk mematikan nafsu).
Bentuk dan cara ’ataqah ini, adalah seperangkat amalan tertentu yang dilaksanakan dengan serius (mujahadah), seperti membaca surat al-ikhlas sebanyak 100.000 kali, atau membaca kalimat tahlil dengan cabangnya sebanyak 70.000 kali, dalam rangka penebusan nafsu amarah atau nafsu-nafsu yang lain. Dalam pelaksanaanya, ‘ataqah dapat dilakukan secara kredit. Fida’ atau ‘ataqah ini biasanya juga dilaksanakan oleh masyarakat santri di Pulau Jawa, mereka melakukannya untuk orang lain yang sudah meninggal dunia.
2) Amalan umum kolektif
a) Istigaśah
Adapun istigasah berarti permohonan kepada Allah supaya memberikan perlindungan (keselamatan) atau bahkan kemenangan. Atau lebih spesifik istighasah itu hampir sama dengan berdoa. Tetapi biasanya yang dimaksud dengan istigasah adalah doa bersama yang tidak mempergunakan kalimat-kalimat doa secara langsung, tetapi mempergunakan bacaan-bacaan ratib tertentu.
Dalam Al-Quran (surat Al-Anfāl), diceritakan Nabi SAW pernah melakukan istigaśah pada saat perang Badar, Nabi SAW berdoa mengangkat tangannya sambil berurai air mata menyaksikan para sahabat yang sedang berperang yang tidak seimbang, baik dalam jumlah maupun peralatan perang yang digunakan. Nabi melakukan istigasah sendiri dan beliau teus berdoa supaya diberi kemenangan.
b) Manaqib
Kata manaqiban berasal dari kata manaqib (bahasa Arab) yang berarti biografi ditambah dengan akhiran -an menjadi manaqiban sebagai istilah yang berarti kegiatan pembacaan manaqib. Dalam hal ini manaqib (biografi) yang dibaca adalah biografi Syekh ‘Abdul Qādir al-Jilāniy, yang merupakan pendiri tarekat qadiriyah dan seorang wali yang sangat legendaris di Indonesia. Selain memiliki aspek ceremonial, manaqiban juga memiliki aspek mistikal.
Jika dilihat atau dikaji secara ilmiah, manaqib memang tidak begitu istimewa. Tetapi nampaknya dalam kehidupan penganut tarekat ini, manaqiban merupakan kegiatan ritual yang tidak kalah sakralnya dengan ritus-ritus lainnya.
Isi kandungan kitab manaqib itu meliputi silsilah nasab Syekh ‘Abdul Qādir al-Jilāniy, sejarah hidupnya, akhlak dan karimah-karamahnya disamping adanya doa-doa bersajak (nadaman, bahr dan rajaz) yang bermuatan pujian dan tawasul melalui dirinya.
Pengakuan akan kekuatan magis dan mistis dalam ritual manaqiban ini hanya karena adanya keyakinan bahwa Syekh ‘Abdul Qādir al-Jilāniy adalah quth al-auliyā’ yang sangat istimewa, yang dapat mendatangkan berkah (pengaruh mistis dan spiritual) dalam kehidupan seseorang. Tetapi dari sekian banyak muatan mistis dan legenda tentang Syekh ‘Abdul Qādir al-Jilāniy yang paling dianggap istimewa dan diyakini memiliki berkah besar dalam upacara manaqib terdapat silsilah nasab syekh. Dengan membaca silsilah nasab ini seseorang akan mendapat berkah yang sangat banyak.
Tradisi pembacaan manaqib dilaksanakan secara terpisah dan merupakan seremonial tersendiri, tidak termasuk dalam kegiatan mujahadah, maupun khataman. Berbeda dengan hal tersebut, pembacaan manaqib di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab dilakukan pada waktu yang hampir bersamaan, dan merupakan satu rangkaian. Pembacaan manaqib dilakukan sebelum kegiatan mujahadah, yang dilakukan seminggu sekali setiap hari Senin (khusus jamaah tarekat) dan Kamis (bagi santri).
Dalam dunia tarekat, tujuan dilakukannaya manaqiban adalah sebagai berikut:
1) mencintai dan menghormati żurriyyah (keturunan) Rasulullah SAW.
2) mencintai para ulama, salihin dan para wali.
3) mencari berkah dan syafa’at dari Syaikh ‘Abdul Qādir Al-Jilāniy.
4) bertawassul dengan Syekh ‘Abdul Qādir Al-Jilāniy karena Allah semata.
5) melaksanakan nazar karena Allah semata, bukan karena maksiat.
c) Rātib
Rātib adalah seperangkat amalan yang biasanya harus diwiridkan oleh para pengamalnya. Dalam istilah tasawuf rātib dipakai sebagai suatu bentuk zikir yang disusun oleh seorang guru tarekat sufi untuk dibaca pada waktu-waktu tertentu oleh seseorang atau beberapa orang dalam suatu jamaah sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh penyusunnya.
Rātib ini merupakan kumpulan dan beberapa potongan ayat atau beberapa surat pendek, yang digabung dengan bacaan-bacaan lain, seperti istigfar, tasbih, salawat, al-asma’ al-husna, dan kalimat ţayyibah dalam suatu rumusan dan komposisi (jumlah bacaan masing-masing) telah ditentukan dalam suatu paket amalan khusus. Rātib ini biasanya disusun oleh seorang mursyid besar dan diberikan secara ijazah kepada para murīdnya. Rātib ini biasanya diamalkan oleh seseorang dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan spiritualnya dan waşilah dalam berdoa untuk kepentingan dan hajat-hajat besarnya.
d) Melaksanakan salat
Disamping melaksanakan salat fardu lima waktu dengan disiplin dan khusyu’, para jam’iyyah TQN di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab setiap hari juga dianjurkan (harus) melaksanakan salat-salat sunnah, terlebih lagi salat sunnah rawatib, salat taubat, salat tasbih, salat hajat, salat sunnah dluha dan salat sunnah tahajud, walaupun hanya dua rakaat. (Tatacara salat-salat sunnah terlampir).
e) Mengamalkan doa
Karena doa merupakan otaknya ibadah, seorang ahli tarekat harus senantiasa menyertai seluruh aktifitas kesehariannya dengan doa. Mulai dari doa untuk aktifitas bangun tidur, sampai dengan doa-doa aktifitas akan berangkat tidur. Setiap aktifitas harus disertai dengan niat yang benar dan doa yang baik. Jika dapat harus diusahakan dengan doa-doa yang ma’śurāt (doa yang diajarkan oleh nabi atau para sahabat).
Seorang ahli tarekat juga harus berupaya untuk senantiasa memberi kontribusi (andil) untuk kebaikan umat Islam dalam bentuk doa-doa. Doa untuk diri dan keluarganya, masyarakat dan umat Islam semuanya. Berdoa untuk kepentingan orang lain, merupakan bantuan dan dorongan spiritual termasuk amal saleh yang harus senantiasa diberikan.
Tinggi dan rendahnya derajat kewalian seseorang juga dapat dilihat dari kontribusi seseorang yang berupa doa. Karena doa juga merupakan bentuk kepedulian. Semakin luas efek doa seseorang kepada orang lain dan masyarakatnya maka semakin tinggi derajat kewaliannya orang tersebut sebagaimana sabda Nabi SAW:
اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَاناً اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. (رواه الترموذى)
“Paling sempurnanya iman seorang mukmin adalah yang paling baik budi pekertinya dan paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain”.
Di antara doa yang perlu untuk selalu dipanjatkan, sebagai bentuk kepedulian seorang ahli tarekat adalah sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ وَعَافِنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاهْدِناَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَّصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ سَلِّمْناَ مِنْ ءَافَاتِ الدُّنْياَ وَعَذَابِ الْاَخِرَةِ وَفِتْنَتِهِمَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ.
“Wahai Allah, selamatkanlah kami dan semua orang Islam, ampunilah kami dan semua orang Islam, tunjukkanlah kami dan semua orang Islam, tolonglah kami dan orang yang menolong agama Islam, hinakankanlah orang yang menghinakan orang-orang Islam dan semua orang yang taat kepada-Mu, selamatkanlah kami dari marabahaya dunia dan siksa akhirat serta fitnah keduanya, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Bacaan doa tersebut adalah bacaan doa yang dibaca oleh jamaah TQN di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab. Seolah-olah ini menjadi bacaan doa khusus bagi kalangan mereka, sehingga doa ini menjadi ciri khas jamaah TQN disana.
B. Materi Pendidikan Tasawuf
Materi pendidikan yang disampaikan di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Nganjuk pada dasarnya adalah materi yang ada dalam struktur kurikulum meliputi aqidah, fiqh dan akhlaq seperti Tafsīr Jalālain, Arba’in Nawawiy, Riyad aṣ-Ṣālihīn, Ṣahih al-Bukhāriy, Ṣahih Muslim, Bulug al-Marām, ‘Aqidah al-‘Awwām, Khulasah, Ilmu Tauhid, Al-Jurumiyyah, ‘Imriti, al-Amsilat al-Tasrīfiyyah, Safinah an-Naja, Fath al-Mu’in, Fath Al-Qarīb, Al-Waraqat, Akhlāq lil Banīn, Sullam Al-Taufiq, Ta’līmul Muta’alim. Jadi materi yang dipelajari bukan hanya materi-materi yang secara khusus membahas ilmu tasawuf. Melainkan materi-materi pengetahuan agama lainnya. Hal ini sebagaimana dikatakan Imam Mālik ra.
مَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّه فَقَدْ تَزَنْدَقَ وَمَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفَ فَقَدْ فَسَدَتْ وَمَنْ تَفَقَّهَ وَ تَصَوَّفَ فَقَدْ تَحَقَّقَ
“Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqh tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelajari tasawuf dan fiqh dia meraih kebenaran.”
Hubungan ilmu fiqh (syariat) dan ilmu tasawuf (akhlak) sangat erat dan saling menunjang, yang tak dapat dipisahkan, tidak untuk diabaikan dimana keduanya sama-sama penting suatu perpaduan antara akal dan hati, perbedaannya yaitu pada sasaran pembahasannya. Selain itu kedua ilmu itu juga harus didukung oleh ilmu tauhid (aqidah). Ilmu tauhid mengarahkan sasarannya kepada soal-soal kepercayaan (aqidah), sedangkan fiqh sasarannya adalah hukum-hukum perbuatan lahiriyah mukallaf (ahkam al-amaliah). Inilah sebabnya Ibn al-Araby mengatakan ilmu tauhid itu dapat menguatkan akidah dan syariah yang dijelaskan oleh Allah SWT dan RasulNya. Sedangkan ilmu fiqh berusaha mengambil hukum sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Allah SWT dan RasulNya baik akidah mapun syariah. Sasaran ilmu tauhid hanya menyangkut soal-soal furu’ yang berhubungan dengan perbuatan. Seorang ahli fiqh akan mengambil hukum-hukum ibadah dari dasar tauhid, ke-Esa-an Allah SWT tanpa mempersoalkan masalah ketuhanan dan yang berhubungan dengannya. Karena bagian ini tergolong ke dalam ahli tauhid.
Perbedaan kedua ilmu ini terletak pada metode dan objeknya. Ilmu tauhid mewarnai aqidah agama, dengan akal pikiran dan mengkontruksikannya atas dasar akal pikiran. Karena ilmu ini memang mengharuskan untuk memahami obyeknya dengan akal (komprehensif) sehingga ilmu tentang Tuhan baru akan diperoleh dengan jalan penyelidikan akal, tanpa meninggalkan nash-nash agama. Lain halnya dengan ilmu tasawuf, ia merasakan aqidah itu dengan hati nurani, tanpa memerlukan akal pikiran dan alasan logika tentang kebenarannya. Manusia cukup saja merasainya dengan hati karena cahaya yang datang itu berasal dari yang terletak di luar akal.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dalam penelitian ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa:
1. Pelaksanaan pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Nganjuk dilalukan melalui tarekat. Dalam hal ini tarekat Qadiriyah wa an-Naqsyabandiyah (TQN).
a. Ta’lim. Bentuk kegiatan ini diantaranya adalah penyampaian materi sebelum kegiatan khataman, menyusun Kurikulum Berbasis Tasawuf dan Informatika (KBTI).
b. Ta’dib. Bentuk kegiatan ini pembiasaan amalan-amalan sunnah, seperti qiyamul lail, puasa sunnah senin-kamis, puasa sunnah Nabi Daud, dan puasa sunnah lainnya.
c. Irsyad. Bentuk kegiatan ini adalah bimbingan zikir, wirid sebagai pengikut tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.
2. Metode pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Nganjuk yaitu dilakukan dengan ta’lim (pengajaran), ta’dib (pembiasaan) dan irsyad (bimbingan). Ta’lim adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru, tidak hanya sekedar penyampaian materi, melainkan juga dijelaskan isi, makna, dan maksudnya agar murid menjadi paham, dan terhindar dari kekeliruan, kesalahan, dan kebodohan. Sedangkan ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang difokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar. Hal ini dilakukan dengan pembiasaan-pembiasaan berperilaku sufi. Sementara irsyad adalah bimbingan mursyid bagi murid (sālik), bersifat praktis bukan teoritis, mengajarkan bagaimana cara bertasawuf, mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memberikan contoh bagaimana ibadah yang benar secara syariat dan hakikat.
3. Materi yang disampaikan dalam pendidikan tasawuf di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Nganjuk membahas tentang akhlak dan budi pekerti, yaitu cara-cara, ikhlas, khusyu’, tawadlu’, muraqabah, mujahadah, sabar, rida, tawakal, dan seluruh sifat terpuji yang berjalan dalam hati.
B. Saran dan Rekomendasi
Sebagai akhir dari pembahasan ini perlu penulis sertakan beberapa saran dalam kaitan dengan proses pendidikan dan pengajaran di Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Nganjuk dengan harapan, tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dicapai dengan semaksimal mungkin.
1. Bagi pengasuh, hendaknya tidak bosan-bosan untuk selalu membimbing santri (murid) dan memperingatkan para santri (murid) dalam segala kegiatan, khususnya dalam hal-hal yang menjadi kewajiban mereka.
2. Hendaknya para santri (murid) merenungkan segala masalah hidup yang sedang dihadapinya dan selalu menjauhkan diri dari segala kerusakan-kerusakan batin, utamakanlah usaha memperbaiki hati dengan meramaikan amalan-amalan akhirat lahir dan batin. Yang terpenting adalah perbanyak bergaul dengan orang-orang yang beramal saleh, baik pekertinya, sopan santun dan rendah diri kepada Allah. Karena pengaruh lingkungan di luar pesantren bisa berakibat negatif pada diri santri.
3. Bagi para santri (murid), janganlah menganggap ringan perintah-perintah Allah baik yang fardlu maupun yang sunnah, seperti membiasakan salat berjama’ah, karena yang demikian sangat merugikan perjalanan mencapai hidup taat mengamalkan ibadah. Seorang santri hendaknya harus lebih bisa mengatur waktu dalam beramal ibadah dengan cara menghindari hal-hal yang mubazir, memelihara keseimbangan antar kepentingan dunia dan akhirat serta mencegah diri dari perbuatan dan perjalanan hidup yang dimurkai oleh Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahnya.
A. Warson Munawir, Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: al-Munawir, 1984), hlm. 557.
Abd. Aziz Dahlan, Tasawaf Sunni dan Tasawuf Falsafi: Tinjauan Filosofis, (Jakarta: Yayasan Paramadina, t.th).
Abd. Aziz Dahlan, Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi: Tinjauan Filosofis, (Jakarta: Yayasan Paramadina, tth), hlm. 125.
Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Terjemahan Shihabuddin dari Ushul Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha fi Baiti wal Madrasati wal Mujtam’, (Jakarta: Gema Insani Press, Cet. Ke-2,1996).
Abi Bakar al-Makkiy, Sayid, Kifayat al-Atqiyā’ wa Minhaj al-Asyfiyā’, (Surabava: Maktabah Sahabat 1lmu, t.th), hlm. 4.
Abu Ahmadi, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 52.
Abu Alifa Shihab, http://ghazi.abatasa.com/post/detail/11612/tahlilan-yassinan-dan-istighasah-bid%E2%80%99ah, diakses tanggal 4 Agustus 2011.
Abū Dāud Sulaimān ibn Asy’aś as-Sijistānīy, Sunan Abu Daud, (Beirut: Dār Ihyā al-Turas al-Arābiy, t.th.).
Abu Hasan al-Sadzili, Majmu‘at al-Khairat, (Surabaya: Nabhan, t.th).
Ahmad ibn Hanbal Abū `Abdullāh al-Shaibāni, Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, (Mesir: Muassasat al-Qurtubah, t.th).
Ahmad Mubarok, Meraih Bahagia dengan Tasawuf, (Jakarta: Dian Rakyat, 2010).
Ahmad Muhammad Syakur, (Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, 1403 H),
Ali Anwar, Cara Mudah Menulis Karya Ilmiah, (Kediri: IAIT Press, 2009).
Ali Anwar, Pembaharuan Pendidikan di Pesantren Lirboyo, (Kediri: ).
Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia, Terjemahan Muhammad Nursamad dari At-Tashawwuf al-Islāmiy wa Atsaruhu fi al-Tashawwuf al-Indunisiy al-Mu’āsir, (Depok: Pustaka Iman, 2009 M/1430 H).
Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan, (Depok: Gema Insani, 2006).
Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002).
Attiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990).
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Terpadu dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002).
Dirjen Pendis, Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan 2006-2007, (Jakarta: Dirjen Pendis Depag RI, 2007).
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1992).
Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi Abad Ke 21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988).
Isma’il ibn M. Sa’id al-Qadiri, al-Fuyudlat al-Rabbaniyah fi mu‘atsiri wa al-Awradi al-Oadiriyah, (Kairo: Masyhad al- Husaini).
Jalaluddin, Kapita Selekta Pendidikan, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990).
John M. Echol, dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995).
Kartini Kartono, Pengertian Metodologi Riset Sosial, (Bandung: Mandar Maju, 1996).
Kharisudin Aqib, Al-Adab: Kode Etik Seorang Muslim, (Nganjuk: Ulul Albab Press, 2010).
Kharisudin Aqib, Al-Hikmah Memahami Teosofi Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, (Surabaya: Bina Ilmu, 2009).
Kharisudin Aqib, An-Nafs Psiko-Sufistik Pendidikan Islami, (Nganjuk: Ulul Albab Press, 2009).
Kristi Poerwandari, Pengantar Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1998).
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosdakarya, 2004).
M. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1980).
Ma’shum, Ajakan Suci, (Yoyakarta: LTN-NU-DIY, 1995).
Martin Van Bruinessen, NU Tradisi Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru, Terj. (Yogyakarta: LiKIS, 1994).
Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1992).
Masyhuri, Fenomena Alam Jin: Pengalam Spiritual dengan Jin, (Solo: CV. Aneka, 1996).
Muchtar Bukhari, Pendidikan Antisipatoris, (Yogyakarta: Kanisius, 1994).
Muhammad ibn `Abdul Karīm Kasnazan, Mausu`ah Kasnazāniah, (Suria: Dar Mahabbah, 2005 M/1426 H).
Muhammad ibn Isma’il Abu `Abdillah al-Bukhariy al-Jufiy, al-Jami` as-Sahih al-Mukhtasar, (Beirut: Dar ibn Kasir al-Yamamah, 1407 H/1987 M), Ditahqiq oleh Mustafa Dib al-Bigha.
Muhammad Irfan dan MS. Mastuki, Teologi Pendidikan, Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan Islam, (Jakarta: Friska Agung Insani, 2000).
Mujamil Qomar, Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokrasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, tt).
Muslim ibn al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusyairiy al-Naisaburiy, Sahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-`Arabiy, t.th), Ditahqiq oleh Muhammad Fuad Abd al-Baqiy.
Nasirudin, Pendidikan Tasawuf, (Semarang: Rasail Media Group, 2010).
Omar Mohammad, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).
Ramayulis dan Samsu Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam mulia, 2009).
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008).
Sayid Abi Bakar al-Makky, Kifayat al-Atqiya’ wa Minhaj al-Ashfiya’, (Surabava: Maktabah Sahabat 1lmu, t.th).
Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: CV. Alfabeta, 2007).
Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran secara Manusiawi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990).
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991).
Sumartono Mestoko, dkk., Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman, (Jakarta: Balai Pustaka, 1986).
Tim Karya Ilmiah Purna Siswa 2011, Jejak Sufi: Membangun Moral Berbasis Spiritual, (Kediri: Lirboyo Press, 2011).
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995).
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktur Pendidikan Dasar dan Menengah, 2003).
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991).
Wuisman, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, (Jakarta: Fakultas Ekonomi UI, 1996), Jilid I.
Yahya Jaya, Spiritualisasi Islam dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994).

Kegiatan KKL Staima Sintang Tahun 2013

DSC_0916
DSC_0922
Tri dharma perguruan tinggi adalah salah satu dasar tanggung jawab mahasiswa yang harus dikembangkan secara simultan dan bersama-sama, serta harus disadari betul oleh semua mahasiswa agar dapat tercipta mahasiswa yang sadar akan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Salah satu dari tri dharma perguruan tinggi adalah pengabdian pada masyarakat. Dharma pengabdian pada masyarakat harus diartikan dalam rangka penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dikembangkan di perguruan tinggi, khususnya sebagai hasil dari berbagai penelitian. Pengabdian pada masyarakat merupakan serangkaian aktivitas dalam rangka kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat yang bersifat konkrit dan langsung dirasakan manfaatnya dalam waktu yang relatif pendek. Aktivitas ini dapat dilakukan atas inisiatif individu atau kelompok anggota civitas akademika perguruan tinggi terhadap masyarakat maupun terhadap inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan yang bersifat nonprofit (tidak mencari keuntungan). Dengan aktivitas ini diharapkan adanya umpan balik dari masyarakat ke perguruan tinggi, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut.
Bentuk dari pengabdian tersebut salah satunya diwujudkan dalam bentuk Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Pada tanggal 1 April 2013 yang lalu, Staima Sintang memberangkatkan 125 mahasiswa dalam kegiatan KKL Tahun 2013. Kegiatan KKL tersebut tersebar di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sekadau dan Kabupaten Sintang.
Kegiatan KKL tersebut bertujuan sebagai sarana latihan bagi mahasiswa agar terampil berperan sebagai motivator dan inovator dalam pelaksanaan pembangunan masyarakat serta dalam rangka mensukseskan program pemerintah untuk mempercepat dan memantapkan proses pembangunan pedesaan.
Pembukaan KKL Staima Sintang di Kabupaten Sintang yang ditempatkan di Kecamatan Kelam Permai dipimpin oleh Camat Kelam Permai, yaitu Bapak Drs. Mariadi, M.Si. Camat Kelam menyambut baik kegiatan mahasiswa KKL tersebut. Bahkan beliau memfasilitasi aneka kebutuhan mahasiswa di lapangan. Dalam sambutannya Ketua Staima Sintang mengingat agar mahasiswa menjaga nama baik almamater Staima Sintang dengan selalu menunjukkan perilaku positif serta dapat memberikan kemanfaatan kepada masyarakat sekitar.
Selesai acara pembukaan KKL, mahasiswa langsung menuju ke lokasi masing-masing. Desa yang dijadikan tempat kegiatan KKL Staima Sintang adalah Desa Kebong, Desa Merpak, Desa Tauk dan Desa Empaci. Sementara itu kegiatan KKL di Kabupaten Sekadau dilakukan di Desa Rawak Hulu dan di Kabupaten Sanggau dilaksanakan di Desa Beringin.
Adapun target yang ingin dicapai dalam kegiata KKL tersebut adalah kegiatan fisik dan non-fisik. Pada kegiatan fisik mahasiswa melakukan perbaikan atau pembangungan tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya. Sementara itu kegiatan non-fisik lebih difokuskan pada implementasi keilmuan akademik melalui kegiatan pemberantasan buta aksara latin dan arab (al-Quran). (bangmoeh)
DSC_0100
DSC_0124